Uang Darurat

Di era milenial seperti sekarang banyak anak muda yang lupa menyiapkan dana darurat, sebagian besar dari mereka menghabiskan seluruh pemasukan untuk kebutuhan dan gaya hidup.

Menurut website finansial yaitu vinansio.com salah satu ciri keuangan yang sehat adalah memiliki uang darurat, bahkan uang darurat menjadi prioritas sebelum berinvestasi.

Apa itu Uang Darurat?

Uang darurat adalah uang yang dipakai dalam keadaan mendesak / urgen seperti kehilangan pemasukan utama atau kebutuhan sakit tertentu yang tidak tertanggung oleh asuransi.

Harus komitmen untuk tidak menggunakan uang darurat selain urgen termasuk untuk investasi atau buka usaha.

Uang darurat tidak harus selalu cash tetapi bisa berupa aset, tetapi harus liquid yang artinya bisa dicairkan dengan cepat dan resiko renda.

Jangan konversi uang darurat dalam bentuk aset beresiko sedang sampai tinggi seperti saham ataupun reksadana.

Salah satu aset yang bagus untuk menyimpan uang darurat adalah emas. Emas memiliki resiko rendah dan proses pencairan cepat.

Tetapi ingat spread jual kembali emas cukup tinggi, jadi dalam tempo waktu singkat kerugian lumayan besar hingga 8%, untuk dapat keuntungan dari emas butuh waktu tempo panjang, dan ini sangat cocok untuk menyimpan uang darurat.

Berapa Besaran Uang Darurat?

Beberapa pakar menyarankan uang darurat setara dengan 3 bulan biaya hidup untuk lajang, dan untuk yang sudah berkeluarga setara 7 – 12 bulan kebutuhan hidup.

Tetapi nilai tersebut tidak bisa serta merta digunakan untuk semua orang, karena masing masing memiliki profil resiko yang berbeda beda.

Seperti seseorang yang memiliki pekerjaan tidak tetap dan beresiko kehilangan pekerjaan perlu memberikan budget uang darurat lebih besar.

Cara Mengumpulkan Uang Darurat

Banyak strategi untuk mengumpulkan uang darurat, salah satunya adalah dengan menyisihkan penghasilan tiap bulan secara konsisten.

Tentu akan sulit menyisihkan dari penghasilan bulanan jika Anda belum tahu berapa kebutuhan bulanan, disini pentingnya membuat jurnal keuangan.

Anda bisa mulai mencatat pengeluaran tiap bulan, kemudian sesekali membuat audit pengeluaran mana yang sebenarnya tidak perlu atau bisa dikurangi.

Jika sudah membuat jurnal Anda bisa tahu berapa sebenarnya kebutuhan bulanan Anda.

Jika sudah membuat jurnal, mulailah memasukan uang darurat dalam anggaran kebutuhan bulanan, untuk seberapa besar yang Anda sisihkan bisa disesuaikan dengan sisa dari pengeluaran bulanan.

Kuncinya ada di komitmen, pertama komitmen untuk tetap menyisihkan uang darurat dan yang kedua komitmen untuk tidak menggunakan uang darurat selain dalam keadaan darurat.

Jika uang darurat sudah terkumpul sesuai target, Anda bisa mulai menyisihkan untuk modal usaha atau mulai investasi untuk melipat gandakan keuntungan tanpa khawatir, karena sudah ada backup uang darurat jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Sekian artikel tentang uang darurat, semoga bermanfaat untuk Anda.

Add Comment