Tempat Wisata di Solo

Tempat Wisata di Solo – Sebagian besar pengunjung melihat Solo atau Surakarta sebagai versi Yogyakarta yang tidak terlalu ramai. Maka dari itu, lebih cocok bagi yang ingin berwisata budaya kesenian Jawa kontemporer. Kunjungi tempat-tempat ini selama perjalanan Anda untuk memastikan pengalaman terbaik, itulah salah satu hal terbaik yang dapat dilakukan di Solo Jawa Barat Indonesia.

Selain terkenal dengan julukan kota Batik, Solo memiliki tempat-tempat wisata yang wajib untuk Anda kunjungi. Berikut tempat wisata di Solo yang telah dikutip dari Sudutnusantara.com.

Tempat Wisata di Solo Terbaru 2020

1. Keraton Kasunanan Surakarta

Kraton adalah kata dalam bahasa Jawa untuk “istana”. Jadi, itu adalah kediaman utama sunan – gelar penguasa Surakarta. Nama resmi keraton Surakarta adalah Kraton Surakarta Hadiningrat tetapi terkadang orang juga menyebutnya Kraton Solo atau Kraton Surakarta.

Istana ini tampak megah sebagai hasil perpaduan gaya arsitektur Jawa dan Eropa. Dulu, ia menampung beberapa generasi Dinasti Pakubuwono hingga pemberontakan anti monarki. Karena hubungan historis antara Solo dan Yogyakarta, tata letak dan gaya arsitektur Kraton Solo hampir identik dengan Kraton Yogyakarta.

Kraton memiliki beberapa makna spiritual dari kepercayaan Jawa kuno yang tersembunyi dalam gaya arsitekturalnya. Misalnya, orang Jawa kuno percaya bahwa angka tujuh adalah angka keramat, oleh karena itu di dalam kompleks istana terdapat tujuh gerbang dan halaman.

Candi Borobudur yang legendaris juga memiliki kepercayaan yang sama dengan Kraton Solo, karena terdapat tujuh tangga dan gerbang di Borobudur. Saat ini, seperti halnya keraton lain di Jawa, keraton ini juga mengalami kemunduran karena terbengkalai dan minimnya dana perawatan. Terdapat museum dan pusat seni di dalam kompleks Kraton Kasunanan.

2. Taman Balekambang

Hutan kota dan taman kota yang indah ini menempati area seluas 9,2 hektar di Kota Solo. Berbagai binatang seperti rusa, merpati, dan kalkun yang hidup dan berkeliaran bebas di dalam taman ini. Ada juga taman reptil yang menampung beragam jenis reptil seperti buaya, iguana, penyu, bahkan hewan lain seperti kasuari, elang, monyet, dan lainnya.

Sementara bagian taman lainnya gratis untuk dimasuki, Anda harus membayar biaya komisi sebesar Rp. 5.000 per orang untuk memasuki taman reptil. Ingatlah untuk tidak memberi makan hewan kecuali ada konfirmasi dari penjaga taman, karena pola makan yang salah dapat membahayakan hidup mereka, jadi bertindaklah secara bertanggung jawab saat Anda di sini.

Taman ini sangat mirip dengan Kebun Raya Bogor dalam hal lingkungan alam dan hewan penghuninya, meskipun ukurannya lebih kecil dan tidak memiliki istana presiden. Dengan segala tanaman hijau subur, Taman Balekambang berfungsi sebagai paru-paru kota Solo.

Taman umum ini juga menjadi spot yang sangat bagus untuk berfoto, itulah sebabnya banyak warga Solo yang memanfaatkannya untuk sesi foto prewedding. Ada amfiteater terbuka yang bisa digunakan untuk mementaskan drama di sini. Banyak artis terkenal, termasuk grup komedi terkenal Srimulat, pernah mengadakan pertunjukan di sini di masa lalu.

3. Istana Mangkunegaran

Setelah perpecahan mereka dari Kesultanan Mataram, Kasunanan Surakarta menghadapi cobaan perang saudara lagi yang akan memecah kerajaan menjadi dua. Pasalnya, penguasa Surakarta saat itu, Pakubuwono II dan III, berpihak pada penjajah Belanda dalam konflik Yogyakarta-Surakarta. Sebagian besar penduduk Indonesia saat itu membenci Belanda karena sikap mereka yang menindas dan kejam terhadap penduduk setempat.

Raden Mas Said, seorang bangsawan di Surakarta yang juga merupakan kerabat jauh Pakubuwono II, bangkit dan memimpin rakyat setempat untuk melawan penindas Belanda dan Kasunanan Surakarta.

Wakil Belanda Nicolaas Hartingh memberikan julukan Pangeran Sambernyawa, yang secara harfiah berarti pangeran yang mencabut nyawa, kepada Raden Mas Said karena kehebatannya dalam bertempur selama konflik berdarah.

Perang saudara ini berakhir dengan perjanjian Salatiga yang mengakui RM Said sebagai penguasa daerah otonom Mangkunegaran yang baru dibentuk. Dia mengambil gelar Mangkunegara I dan memerintah rakyatnya dengan kebijaksanaan dan tata cara yang bijaksana.

Pada masa pemerintahannya, dia membangun istana baru di kota Solo untuk menandai perbedaan antara dia dan penguasa sebelumnya, Pakubuwono. Inilah mengapa di Kota Solo terdapat dua keraton atau keraton, satu milik keluarga Pakubuwono, dan satu lagi milik keluarga Mangkunegara.

Istana Mangkunegaran sama indah dan megahnya dengan Istana Kasunanan. Dibangun pada tahun 1757 dan memiliki ruang pertemuan atau pendopo utama yang megah yang dianggap sebagai pendopo terbesar di Indonesia.

4. Rumah Danar Hadi

House of Danar Hadi, juga dikenal dengan Museum Batik Danar Hadi, merupakan sebuah kompleks peninggalan budaya Jawa yang terintegrasi. Daya tarik utama di sini jelas adalah sejarah batik dalam semua aspek budayanya termasuk proses pembuatannya. Museum ini membanggakan koleksi tekstil khas yang luar biasa dari berbagai periode dan lokasi.

Beberapa koleksinya adalah barang antik dan berasal dari luar negeri. Beberapa dibuat secara lokal dengan pola khas yang berbeda dari daerah ke daerah. Tapi semuanya benar-benar luar biasa, karena setiap pola batik menggambarkan atau dipengaruhi oleh sesuatu atau seseorang. Dengan demikian, setiap keindahan kerajinan tangan ini sering kali memiliki makna atau cerita di balik pembuatannya.

Sejarah Danar Hadi sendiri berawal pada tahun 1967 ketika H. Santosa Doellah dan istrinya, Hj. Danarsih Santosa mulai berbisnis batik. Nama Danar Hadi berasal dari nama istrinya, Danarsih, dan nama ayahnya, H. Hadipriyono.

Seiring berjalannya waktu, bisnis mereka menjadi begitu sukses sehingga mereka memutuskan untuk membuka museum pada tahun 2008 untuk memajang koleksi mereka. Ini terkenal sebagai yang terbaik di Indonesia, dengan lebih dari 10.000 potong kain batik yang mengesankan dari berbagai era. Ini adalah tempat yang tepat untuk mempelajari perbedaan antara corak khas batik dan sumber aslinya.

5. Taman Sriwedari

Taman Sriwedari merupakan pusat cagar budaya dan fasilitas rekreasi. Di masa lalu, keluarga kerajaan memanfaatkan taman sebagai sumber hiburan berupa pertunjukan wayang tradisional yang disebut wayang, terkadang dengan tarian teater tradisional.

Pertunjukan wayang atau wayang merupakan kesenian Jawa kuno yang sangat erat kaitannya dengan zaman Hindu-Buddha dalam sejarah Indonesia. Oleh karena itu, sebagian besar pertunjukan ini menampilkan tema yang diadaptasi dari sumber-sumber seperti Mahabharata, Ramayana, serta mitos dan legenda Hindu lainnya.

Wayang sendiri terbagi dalam beberapa kategori, yaitu wayang kulit , wayang wong, wayang gedog atau topeng, wayang golek , dan lainnya.

Pertunjukan wayang yang paling menonjol di Taman Sriwedari adalah wayang wong atau wayang orang, yang mempekerjakan orang sungguhan yang melakukan pertunjukan teater dan tarian.

Taman ini masih menampilkan pertunjukan wayang biasa hingga hari ini. Di zaman modern, taman ini juga menyediakan atraksi lain seperti taman bermain anak dan food court.

6. Museum Sangiran

Sangiran adalah situs penggalian arkeologi paling terkemuka di dunia untuk mempelajari fosil manusia. Dalam hal fosil, banyak ekspedisi menghasilkan penemuan yang lebih bermanfaat daripada situs lain di berbagai negara. Para arkeolog telah menemukan banyak fosil seperti pithecanthropus erectus dan meganthropus paleojavanicus di situs ini.

Fosil-fosil ini menandakan keberadaan manusia purba lebih dari satu juta tahun yang lalu. Penemuan lain termasuk fosil berbagai hewan, seperti stegodont dan buaya, serta peralatan primitif. Ini adalah bukti bahwa manusia primitif ini telah memburu hewan-hewan ini menggunakan alat-alat tersebut pada masa prasejarah.

Pada 2011, mereka membuka museum untuk memamerkan penemuan dan koleksi dari situs arkeologi untuk umum. Museum itu sendiri terdiri dari tiga aula utama, masing-masing dengan tema dan tujuannya masing-masing.

Aula pertama menampilkan diorama dan informasi menarik tentang manusia dan hewan prasejarah yang ada di situs Sangiran sekitar satu juta tahun yang lalu. Aula kedua menyajikan sejarah situs dan menampilkan fosil serta penemuan yang telah dibuat hingga hari ini.

Aula terakhir menampilkan model Sangiran yang sangat besar dan mengesankan serta pemandangan daerah terpencil di sekitar Sangiran termasuk pegunungan, manusia, dan hewan, seperti yang dibayangkan pada zaman prasejarah.

Akhir Kata

Itulah diatas yang sudah kami ulas mengenai tempat wisata baru di Solo di mana dirangkum dari Sudut Nusantara. Anda juga bisa membaca artikel di sana mengenai wisata-wisata di seluruh tanah air Indonesia. Jadi, yakin tidak tertarik untuk berkunjung ke Solo?

Add Comment